“Menjadi Penjaga yang Berdiri dalam Doa”
Indonesia Prayer Tower Gathering yang pertama menjadi momentum persekutuan, doa, dan penyelarasan hati bagi tubuh Kristus di Indonesia. Dalam pertemuan ini, berbagai pesan, kesaksian, dan renungan firman Tuhan disampaikan sebagai pengingat akan panggilan gereja untuk berdiri dalam doa bagi kota, bangsa, pemerintahan dan jiwa-jiwa di Indonesia.
A New Season of Fulfillment
Jonathan Salim membagikan sebuah prophetic rhema mengenai tahun 5787. Tahun ini dipandang sebagai sebuah musim di mana banyak “kandungan” yang telah matang akan melahirkan sesuatu yang telah lama dinantikan. Ia menyampaikan bahwa akan ada banyak kelahiran dan penggenapan atas apa yang telah Tuhan persiapkan, serta mengajak setiap keluarga untuk menerima dan memperkatakan apa yang Tuhan sedang kerjakan di musim yang baru ini.
Pesan ini sejalan dengan Wahyu 21:5: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” Sebuah pengingat bahwa Tuhan adalah Pribadi yang terus mengerjakan pembaruan dan membawa umat-Nya memasuki musim yang baru.
Adinda Rukmi juga membagikan Mazmur 65:11-13, tentang Tuhan yang memahkotai tahun dengan kebaikan-Nya. Ayat ini menjadi gambaran tentang kelimpahan dan sukacita dalam mengikuti jejak Tuhan. Akan ada sebuah pengharapan bahwa tahun yang baru dapat menjadi musim di mana apa yang telah ditaburkan mulai menghasilkan buah.
Indonesia Prayer Tower: Milik Seluruh Tubuh Kristus
Jonathan Wimpy menegaskan bahwa Indonesia Prayer Tower bukan hanya milik satu kelompok atau komunitas, melainkan menjadi bagian dari seluruh Tubuh Kristus di Indonesia.
Melalui Yesaya 6:5-8, disampaikan kembali panggilan untuk mengalami penyucian, mendengar suara Tuhan, dan merespons dengan kesiapan untuk diutus: “Ini aku, utuslah aku!”
Tahun ini menjadi sebuah undangan untuk melepaskan suara Tuhan melalui kehidupan umat-Nya. Tuhan rindu menaruh perkataan-Nya di dalam hati setiap orang dan membangkitkan umat yang bukan hanya mendengar, tetapi juga bersedia menjadi pembawa pesan dan pelaksana kehendak-Nya.
Mengembalikan Hati kepada Doa
Ps. Eman Pitanuki dari Living Water Ministry membagikan kesaksian tentang bagaimana Tuhan kembali memberikan kepadanya hati yang hancur dalam doa dimulai dari tempat kerjanya sendiri.
Di tengah aktivitas pekerjaan, Tuhan memberikan beban untuk berdoa bagi tempat di mana ia bekerja. Melalui Indonesia Prayer Tower, hati tersebut kembali diarahkan kepada panggilan doa yang lebih luas: berdoa bagi kota, pemerintahan, gereja, hingga bangsa Indonesia.
Kesaksian ini menjadi pengingat bahwa Tuhan dapat memakai setiap tempat dan pekerjaan untuk membangkitkan hati yang berdoa. Panggilan untuk berdoa tidak terbatas pada ruang doa, tetapi dapat lahir dan dijalankan di tengah kehidupan sehari-hari.
Tuhan adalah Penjaga Bangsa Indonesia
Marsha Hasan membagikan Mazmur 121:5: “Tuhanlah penjagamu, Tuhanlah naunganmu.” Firman ini menjadi pengingat bahwa Tuhan sendiri adalah penjaga dan naungan bagi bangsa Indonesia. Di tengah berbagai perubahan dan dinamika bangsa, gereja dipanggil untuk terus menempatkan pengharapannya kepada Tuhan dan berdiri dalam doa.
Pesan Rosh Hashanah 5787: Menjadi Watchmen
Dalam pesan Rosh Hashanah 5787, Festy Sarumaha menyampaikan panggilan kepada umat Tuhan untuk menjadi watchmen.
Penjaga dipanggil bukan sekadar untuk melihat, tetapi untuk berjaga, mendengar suara Tuhan, dan berdiri sampai maksud Tuhan digenapi. Yesaya 62:6-7 menjadi dasar bahwa para penjaga ditempatkan di atas tembok untuk terus mengingatkan dan tidak berdiam diri sampai Tuhan menggenapi tujuan-Nya atas Sion.
Beberapa penekanan yang disampaikan adalah pentingnya menjaga apa yang keluar dari mulut, karena hidup dan mati dikuasai oleh lidah (Amsal 18:21). Firman Tuhan menjadi pedang Roh (Efesus 6:17), sehingga gereja dipanggil untuk memperkatakan kebenaran, iman, dan berkat, bukan ketakutan atau keluhan.
Para penjaga juga dipanggil untuk menunggu dan mendengar pesan Tuhan sebelum bereaksi. Habakuk 2:1 mengingatkan kita untuk berdiri di tempat penjagaan dan menantikan apa yang akan Tuhan firmankan. Doa tidak hanya berbicara kepada Tuhan, tetapi juga belajar menjadi peka terhadap hati dan kehendak-Nya.
Pesan ini juga menekankan pentingnya syafaat yang mendalam dan peka. Eskalasi berbagai keadaan membutuhkan kedalaman doa, bukan sekadar kuantitas. Umat Tuhan dipanggil untuk memiliki hati yang cepat bertobat, mudah diarahkan oleh Roh Kudus, dan tekun berdiri di antara celah bagi kota, bangsa, gereja, pemerintahan, dan jiwa-jiwa.
Melalui Yehezkiel 22:30, gereja kembali diingatkan tentang panggilan untuk berdiri di tengah celah. Seperti Musa, Abraham, Daniel dan Nehemia yang berdiri bagi bangsanya, umat Tuhan dipanggil untuk tidak berhenti berdoa sampai maksud Tuhan ditegakkan.
Standing in the Gap for Indonesia
Indonesia sedang memasuki berbagai perubahan besar, dan gereja tidak ditempatkan secara kebetulan di tengah bangsa ini. Pesan yang dibagikan dalam gathering ini menjadi ajakan untuk melihat kembali posisi gereja sebagai umat yang berdoa dan berjaga bagi Indonesia.
Kebangunan dimulai dari umat-Nya.
2 Tawarikh 7:14 menjadi pengingat bahwa ketika umat Tuhan merendahkan diri, berdoa, mencari wajah-Nya, dan berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, Tuhan mendengar dari sorga dan memulihkan.
Indonesia Prayer Tower Gathering menjadi sebuah momentum untuk kembali menyelaraskan hati dengan Tuhan: mendengar suara-Nya, menjaga perkataan, berdiri dalam kebenaran, dan bertekun dalam doa.
Kiranya dari mulut gereja-gereja Tuhan di Indonesia terus keluar iman, berkat, kebenaran, dan pengharapan, sehingga umat-Nya dapat berdiri sebagai penjaga dan syafaat bagi bangsa sampai maksud Tuhan atas Indonesia digenapi.

Komentar
Tulis Komentar